Generasi Milenial

-

Artikel Terbaru

Tuesday, April 30, 2019

Kesenian Asal Jawa Tengah ini Jarang Ada di Era Modern


           Negara Kita Indonesia kaya akan berbagai budaya yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, salah satunya adalah kesenian tradisional. Di setiap daerah tidak hanya memilki satu kebudayaan saja, tetapi bisa bermacam macam kebudayaan. Dari yang banyak di kenal oleh seluruh masyarakat Indonesia sampai yang hanya di kenali oleh masyarakat di daerahnya saja. Saat ini  kita akan membahas salah satu kebudayaan di daerah jawa tengah khususnya daerah magelang yaitu kesenian Tarian Kubro Siswo.Apakah anda sudah tahu kesenian tradisional kubro siswo ini? Apa yang anda ketahui tentang tari Kubro Siswo?

SEJARAH ADANYA KESENIAN TRADISIONAL KUBRO SISWO

           Kubro Siswo adalah kesenian tradisional yang berlatar belakang penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Dari segi bahasa kata kubro berarti besar dan siswo berarti siswa atau murid. Sehingga dapat di artikan murid-murid Tuhan yang dinyatakan dalam  bentuk  pertunjukan yang selalu menjunjung kebesaran Tuhan. Kubro Siswo merupakan singkatan dari Kesenian Ubahing Badan lan Rogo ( kesenian mengenai gerak badan dan jiwa), yang bermakna meningkatkan manusia khususnya umat Islam agar mereka selalu hidup seimbang antara keperluan duniawi dan keperluan Akhirat.


Tujuan dari  tarian tradisional ini yaitu untuk penyebaran agama islam di Pulau Jawa.  Akan tetapi, tari tradisional kubro siswo ini sering di kaitkan dengan sebuah cerita, yaitu cerita seseorang kyai yang bernama Ki Garang Serang.  Ia adalah seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang mengembara di daerah Pegunungan menoreh untuk menyebarkan ajaran agama  Islam. Singkat cerita Ki Garang Serang memasuki sebuah hutan yang di huni oleh banyak binatang buas.  Pada saat hutan itu terbakar, terjadi pertentangan antara Ki Garang Serang dengan sekelompok binatang buas. Dengan mengerahkan seluruh kesaktiannya, seluruh binatang itu dapat ditakhlukkan oleh Ki GarangSerang, demikian tadi  sedikit cerita yang berkaitan dengan Tari Kubro Siswo.

           Kesenian Kubro Siswo ini biasanya ditarikan secara masal sekitar 25 orang atau mungkin lebih dan biasanya semua penarinya adalah laki-laki, seiring perkembangan jaman ini, tarian Kubro Siswo ini juga ditarikan oleh kaum hawa dari anak muda hingga sekelompok ibu-ibu.  Kesenian Tradisional  ini ditampilkan kurang lebih dengan durasi sekitar 5 jam yang terbagi dari beberapa sesi pertunjukan, dengan lantunan musik yang hampir mirip atau bahkan mirip dengan lagu perjuangan dan ada juga musik qasidahan, akan tetapi liriknya biasanya diubah dengan lirik yang lebih Islami. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi kesenian ini antara lain 3 buah dodok, jedor (semacam bedug) dan gendang dan pada jaman ini telah diimprovisasi dengan ditambahnya keyboard, drum, gitar listrik, dan bass listrik.

           Jika coba kita amati bersama, kesenian tradisional kubro siswo ini merupakan akulturasi budaya jawa, ajaran Islam dan jaman jaman kolonial. itu dapat kita lihat dari dandanan para pemainnya yang seperti tentara jaman keraton, tetapi dari pinggang ke bawah mengenakan dandanan seperti pemain bola dengan celana pendek dan kaos kaki yang superamat tinggi. Di dalam kesenian inipun harus ada seorang kapten yag bertugas untuk memimpin tarian dan selalu membawa peluit, dijaman sekarang ini kapten ini beranggotakan 3 orang yang biasanya memakai pakaian seperti seorang pelaut dengan membawa peluit . Inilah yang menjadi gaya tarik kesenian tradisional kubro siswo tersebut.
Selain tarian dan kostumnya, atraksi-atraksi yang menabjubkan juga menjadi daya tarik tarian tersebut. Antara lain permainan bola api, tubuh yang disetrika, mengupas kelapa dengan gigi, naik tangga yang anak tangganya terbuat dari beberapa berang (istilah jawanya bendho), adegan perang, dan yang lebih menarik ada adegan kesurupan (istilah jawanya ndadi).

           Adegan kesurupan merupakan gambaran peperangan antara Ki Garang Serang dengan binatang-binatang Pegunungan Manoreh. Hanya saja dalam tarian kubro siswo binatang-binatang tersebut digantikan oleh pemain yang menggunakan kostum hewan. Dengan lecutan pecut, bau kemenyan dan setelah bunga tujuh rupa disiramkan ke para pemain, maka para pemain akan mulai kesurupan dan mulai menari.

 Untuk menyembuhkan para pemain, maka pawang akan memaksa para penari yang kesurupan untuk mendekati bendhe atau gengang. Dan setelah doa dipanjatkan, maka para penari akan pingsan dan setelah sadar mereka akan sembuh. Setelah itu, selesailah permainannya.
Kubro Siswo taruan khas daerah Magelang. Konon, tari ini berasal dari daerah sekitar Candi Mendut. Sejak tahun 1965, kesenian tradisional ini sudah ada di daerah Borobudur dan sekitarnya. Mengenai kapan dan di mana terciptanya tarian ini secara resmi, belum dapat diketahui secara pasti hingga saat ini.

KESENIAN TARI KUBRO SISWO DI ERA PERKEMBANGAN JAMAN SAAT INI

            Pada saat ini apabila anda tidak pernah atau jarang melihat kesenian ini bukan berarti sudah luntur atau hilang, melainkan sudah terjadi pengembangan dan improvisasi  pada kesenian ini. Saat ini bukan tari Kubro Siswa yang berkembang, akan tetapi justru Dayakan dan rampak buto yang hampir seluruh tarian dan kagunya mirip dengan Kubro Siswo. Ternyata dapat di bilang bahwa kesenian ini memang sudah  bermetamorfosis menjadi Kesenian Dayakan (Topeng Ireng) , walaupun gerakannya sudah dibuat lebih sederhana. Begitupun gerakannya lebih energic dan keras.
            Selain itu, dari segi kostum juga sudah dirubah menjadi ala Suku Dayak Kalimantan. Hanya saja untuk kostum ini lebih meriah karena memakai pakaian yang berwarna lebih meriah. Tidak ketinggalan yang dipakai di kepala, topi yang dibuat dengan bulu yang berwarna-warni membuat kesenian itu lebih menarik dibanding dengan Kubro Siswo.
            Yang tak berubah dari kesenian tersebut adalah adegan kesurupan(ndadi). Dalam kesenian Dayakan ini, adegan tersebut memang tidak dihilangkan. Karena walau bagaimanapun juga, adegan itulah yang menjadi daya tarik khusus kesenian tradisional tersebut.

No comments:

Post a Comment